Ibukota Prancis?
Selamat datang di Paris - lebih dari sekadar kota, ini adalah sebuah petualangan dalam dirinya sendiri. “Kota Cahaya,” “Kota Cinta,” dan banyak lagi.
Mari kita ke inti dari tempat yang terus menginspirasi orang-orang di seluruh dunia.
Sebelum Anda tiba, pastikan untuk melengkapi diri dengan iRoamly eSIM untuk perjalanan di Prancis agar tetap terhubung dan berbagi petualangan Anda secara real-time.

Apa Ibukota Prancis?
Paris. Namanya langsung membangkitkan imajinasi tentang jalan-jalan dengan pepohonan yang berjajar, monumen yang megah, kafe di tepi jalan, dan banyak lagi. Dengan luas sekitar 105 kilometer persegi dan berada sekitar 130 meter di atas permukaan laut, Paris menawarkan suasana yang menarik sekaligus mengagumkan.
Nama Panggilan Paris
Paris dengan hangat dijuluki dengan beberapa nama, masing-masing memperkenalkan keindahan unik yang ditawarkannya. Yang paling terkenal adalah “Kota Cahaya” (La Ville Lumiére), sebuah penghormatan atas perannya sebagai pusat pencerahan, dan sebagai salah satu kota pertama yang banyak menggunakan pencahayaan jalan.

Nama lain yang sangat disukai adalah “Kota Cinta” (La Ville de l’amour), sebuah tribut terhadap nuansa romantis dari jalan-jalan berliku, taman-taman yang tenang, dan lokasi ikonik untuk berciuman di bawah struktur Menara Eiffel.
Sebaliknya, penduduk setempat menyebutnya sebagai “Paname,” menunjukkan sisi kota yang modern dan dinamis. Setiap nama panggilan menggambarkan cerita tersendiri tentang Paris, dan setiap nama mengundang wisatawan dan penduduk untuk menjelajahi keragaman karakternya yang tak pernah usang.
Bagaimana Paris bisa menjadi (dan tetap) ibu kota?
Paris pertama kali berfungsi sebagai ibu kota pada akhir abad ke-3, menggantikan Trier sebagai ibu kota Galia Romawi di bawah Kaisar Julian. Sejak saat itu, Paris lebih atau kurang mempertahankan posisi tersebut, kecuali beberapa periode ketika kekuasaan pindah ke tempat lain. Pada akhir abad ke-10, pengadilan Perancis berpindah-pindah, dan Paris tidak selalu menjadi tempat tinggal yang diinginkan.
Keadaan berubah pada abad ke-12, ketika Paris menjadi pusat politik dinasti Capetian, yang memerintah wilayah dan kerajaan dari kota tersebut.
Satu gangguan dalam peran Paris sebagai ibu kota terjadi selama Revolusi Perancis, ketika kekhawatiran akan pemberontakan di Paris membuat pemerintah revolusioner menyatakan ibu kota berpindah ke Versailles pada tahun 1789.

Namun, masa pemerintahan di Versailles berlangsung kurang dari dua tahun, dan kota segera melanjutkan perannya. Selama berabad-abad kemudian, kota ini — baik untung maupun rugi — telah menjadi lambang Prancis itu sendiri, bertahan dari kebakaran, wabah, perang, dan pemberontakan.
Populasi Paris
Pada Januari 2023, perkiraan populasi kota ini adalah 2.102.650 jiwa, dibandingkan dengan 2.165.423 jiwa pada Januari 2022, dua belas bulan sebelumnya. Selama sepuluh tahun terakhir, dari 2013 hingga 2023, Paris telah kehilangan sekitar 122.919 jiwa, turun sekitar 5 persen.
Meski ada sedikit penurunan jumlah penduduk, Paris masih menjadi salah satu lokasi terpadat di Eropa, dengan sekitar 252 penduduk per hektar, tidak termasuk ruang hijau seperti taman umum.

Penurunan populasi ini diyakini sebagian disebabkan oleh tingkat kelahiran yang menurun, berkurangnya penduduk kelas menengah, dan kemungkinan konversi perumahan menjadi penyewaan jangka pendek bagi turis.
Paris juga menempati peringkat sebagai kota terbesar keempat berdasarkan populasi di Uni Eropa, setelah Berlin, Madrid, dan Roma (yang memiliki populasi sekitar 2,8 juta pada tahun 2021), memperkuat statusnya sebagai pusat internasional utama.
Cuaca Paris
Iklim Paris adalah laut sedang, khas Eropa Barat, dengan musim dingin yang dingin dan lembap serta musim panas yang hangat dan menyenangkan.
Cuaca jarang mencapai suhu ekstrem, menjadikannya tempat yang serbaguna untuk dikunjungi terkait suhu. Suhu musim panas biasanya berkisar antara 15ºC hingga 25ºC, namun dapat meningkat di atas 32ºC, seperti gelombang panas dahsyat di Eropa pada tahun 2003.
Musim semi dan gugur adalah musim yang sering tidak terduga namun sangat menggoda di kota ini, menawarkan hari-hari yang segar dan cerah serta malam yang sejuk. Musim dingin cenderung lebih berawan, dengan suhu siang yang tetap sejuk tetapi jarang dingin, dan suhu malam tetap di atas titik beku.

Curah hujan tersebar merata sepanjang tahun, kadang membawa hujan lebat yang tiba-tiba dan hari-hari hujan yang tidak terduga sepanjang tahun.
Waktu Terbaik untuk Mengunjungi Paris
Kapan pergi sangat tergantung pada apa yang ingin Anda lakukan; kota ini selalu menakjubkan di setiap musim. Jika Anda ingin menggabungkan wisata Anda dengan cuaca terbaik, pertimbangkan berkunjung saat musim transisi musim semi (April hingga Juni) dan musim gugur (September hingga November) saat suhu sejuk dan kota tidak terlalu ramai.
Bahkan musim dingin yang lebih dingin dan musim panas yang lebih panas memberikan pengalaman musiman yang menarik seperti Natal yang nyaman atau bermain boules di Seine pada bulan Juli.
Atraksi di Paris: Tempat-Tempat Terbaik untuk Dikunjungi
Menjelajahi Paris berarti melintasi lanskap pemandangan ikonik dan keajaiban budaya. Ada banyak aktivitas menakjubkan di Paris—baik Anda ingin mendaki menara kuno, mengunjungi museum kelas dunia, atau sekadar menikmati suasana lokal, Paris menawarkan sesuatu yang ajaib untuk semua orang.

Titik minat yang tidak boleh dilewatkan meliputi Menara Eiffel, sebuah pertunjukan luar biasa dari kecerdasan teknik kota, dan Museum Louvre, yang menampilkan karya-karya seperti Mona Lisa dan Venus de Milo. Katedral Notre-Dame adalah mahakarya Gotik, sementara jalan-jalan berliku di Montmartre dan Basilika Sacré-Cœur menggambarkan sejarah Paris sebagai tempat perlindungan seniman. Jendela kaca patri bercahaya di Sainte-Chapelle adalah suatu keharusan untuk dilihat.

Masing-masing atraksi ini tidak hanya memperkaya perjalanan Anda, tetapi juga membuka pintu menuju sejarah dan budaya Paris yang kaya.
Makanan Paris:
Paris, sebagai ibu kota kuliner Prancis, memiliki dunia gastronomi yang tiada tandingannya. Berikut adalah lima sajian penting untuk dinikmati selama Anda di Paris, dan setiap restoran yang disebutkan menawarkan cita rasa khas masakan Prancis.
Croissant
Pastry Prancis yang renyah dan bermentega ini adalah cara yang sempurna untuk memulai hari.

Terbaik di: Boulangerie Poilâne (8 Rue du Cherche-Midi, 75006 Paris)
Coq au Vin
Masakan ayam yang dimasak perlahan dengan anggur, jamur, bawang, dan terkadang bawang putih.
Terbaik di: Chez la Vieille (1 Rue Bailleul, 75001 Paris)
Ratatouille
Rebusan sayuran dari Nice ini terdiri dari zucchini, terong, paprika, bawang, dan tomat yang dibumbui dengan herbes de Provence.

Terbaik di: Les Papilles (30 Rue Gay-Lussac, 75005 Paris)
Bouillabaisse
Rebusan ikan khas Provence ini memiliki kekayaan rasa yang sebanding dengan sejarahnya, biasanya disajikan dengan rouille.
Terbaik di: Le Petit Châtelet (39 Rue de la Bûcherie, 75005 Paris)
Macarons
Kue manis berbahan dasar meringue, diisi dengan ganache, krim mentega, atau selai.

Terbaik di: Ladurée (21 Rue Bonaparte, 75006 Paris)
Ringkasan:
Paris, kota paling dinamis di Prancis, menawarkan keunikan bagi setiap orang di kota yang kaya akan sejarah dari Lutetia hingga posisinya saat ini sebagai surga bagi pencinta seni, budaya, dan kuliner.
Nikmati perjalanan mengarungi masa lalu, merasakan keajaiban saat ini, dan mengagumi lanskap serta jiwa Paris.
Ini bukan sekadar ibu kota Prancis—ini adalah sebuah dunia yang menunggu untuk dijelajahi dalam setiap keindahannya.